
Ringkas: Iran telah lama hidup di bawah sanksi AS dan membangun hubungan dagang dengan negara-negara yang bersedia atau terpaksa tetap berdagang dengannya. China, Turki, Pakistan, dan Armenia menjadi contoh utama ketika Washington kembali mengancam sanksi baru yang disebut sebagai “economic D-Day”.
Amerika Serikat mengatakan “serangan finansial tunggal terbesar yang pernah ada” akan membantu AS dan Israel mengakhiri perang yang sedang berlangsung dengan Iran. Namun, Iran bukanlah pihak asing terhadap taktik semacam ini.
Sejak Revolusi Islam 1979, rezim Iran hampir terus-menerus menghadapi sanksi AS. Dalam periode itu, Iran membangun hubungan dagang yang dalam dengan beberapa negara yang memiliki sejarah mengabaikan tekanan ekonomi AS, atau tidak mampu berhenti berdagang dengan Iran.
Karena itu, Iran mengatakan pihaknya “sepenuhnya siap” menghadapi sanksi baru AS, dan banyak ekonom menilai dampak langkah terbaru Washington akan terbatas.
Pertanyaannya, dengan siapa Iran berdagang? Dan apakah yang disebut AS sebagai “economic D-Day” benar-benar bisa berdampak nyata pada Iran?
China menjadi pembeli terbesar
China adalah pembeli terbesar barang Iran, mencakup 26,9% dari ekspor Iran pada 2025, menurut data International Trade Centre (ITC), lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa dan World Trade Organisation.
Ada beberapa catatan terhadap data ITC, yang mencakup periode sebelum perang AS-Israel dengan Iran dimulai. Pertama, sejumlah ekonom meyakini bahwa bahkan sebelum konflik dimulai, banyak penjualan minyak Iran, terutama ke China, tidak dilaporkan sepenuhnya karena alasan politik.
Kedua, ITC menghitung ekspor Iran terutama dari angka impor yang dilaporkan mitra dagangnya, karena sulit memperoleh data ekspor Iran yang mutakhir. Ketiga, data impor untuk beberapa mitra dagang Iran, seperti Irak, tidak lengkap.
Meski begitu, pentingnya perdagangan Iran bagi China terlihat jelas dari respons Beijing atas pengumuman “economic D-Day” oleh AS. China menyatakan dengan tegas menentang apa yang disebutnya sebagai “sanksi sepihak ilegal”, mengatakan bahwa tekanan ekonomi tidak akan membantu menyelesaikan masalah, dan menegaskan Beijing akan melindungi kepentingannya sendiri.
Turki, Pakistan, dan dilema tekanan AS
Menurut data ITC, Turki juga merupakan mitra dagang besar Iran, tetapi hubungannya dengan AS jauh lebih bersahabat dibanding China. Hal ini menempatkan Turki dalam posisi sulit. AS telah mengancam akan menghukum pihak-pihak yang terus berdagang dengan Iran sebagai bagian dari taktik tekanan ekonominya.
Namun, para ekonom menilai Turki tidak bisa menghentikan perdagangan dengan Iran tanpa menimbulkan kerusakan besar pada ekonominya sendiri, yang sudah berjuang dengan inflasi 31,8%, menurut data resmi, external.
Singkatnya, sebagai satu-satunya anggota Nato yang berbatasan langsung dengan Iran, Turki harus menyeimbangkan hubungannya dengan sekutu militer dan hubungannya dengan tetangga ekonomi terdekatnya.
Seperti Turki, Pakistan juga berbatasan dengan Iran dan merupakan salah satu mitra ekspor terbesar Iran, menurut data ITC, sambil tetap berupaya menjaga hubungan baik dengan AS.
Namun berbeda dari Turki, mitra ekspor utama Pakistan justru AS, sehingga Pakistan memiliki lebih banyak hal yang dipertaruhkan jika Washington menjatuhkan hukuman ekonomi.
Pakistan juga menjadi mediator penting dalam pembicaraan damai antara AS dan Iran, sehingga memburuknya hubungan dengan salah satu pihak dapat membuat pencarian solusi atas konflik ini menjadi jauh lebih sulit.
Faktor rumit lainnya adalah tidak semua perdagangan Pakistan dengan Iran berada dalam kendali pemerintah Pakistan.
BBC melihat bukti bahwa minyak diselundupkan melintasi perbatasan dari Iran ke Pakistan dalam jumlah besar oleh pengendara sepeda motor, bahkan ada yang berusia 15 tahun. Ini sudah terjadi sebelum perang Iran dimulai, tetapi data menunjukkan praktik tersebut meningkat sejak saat itu.
Meski AS dan perusahaan minyak Pakistan telah menekan pemerintah Pakistan agar menindak praktik itu, pemerintah kesulitan mengawasi wilayah terpencil di sepanjang perbatasan sepanjang 900 km.
Sebelumnya BBC telah meminta pemerintah Iran menanggapi tuduhan bahwa mereka terlibat dalam penyelundupan bahan bakar tersebut. Pemerintah Iran tidak merespons.
Armenia dan mitra dagang lain
Armenia juga merupakan mitra dagang utama Iran, menurut data ITC.
Perbedaan terbesar Armenia dibanding negara lain adalah mitra ekspor utamanya adalah Rusia, yang menyumbang 34,9% dari seluruh barang yang dijual Armenia pada 2025.
Ini terjadi meski Rusia telah menghadapi sanksi dari AS dan sekutunya sejak invasi besar-besaran ke Ukraina pada 2022. Hal ini menunjukkan Armenia mungkin bersedia terus berdagang dengan Iran meskipun tekanan AS terus meningkat.
Seberapa besar dampaknya?
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan sanksi terhadap Iran akan “mengencangkan jerat dan memblokir setiap sumber pendapatan yang mungkin”.
Namun, banyak pakar tidak sependapat. Firma penasihat Oxford Economics mengatakan dampak langsung terhadap pendapatan Iran akan “agak mengecewakan”.
Ali Vaez, wakil direktur di International Crisis Group, mengatakan: “Apa pun yang bergerak di Iran sudah disanksi oleh berbagai lapis sanksi, faktanya.
“Jadi pertanyaannya sekarang adalah soal penegakan. Apakah Amerika Serikat punya kemampuan untuk menjatuhkan denda dan pungutan pada negara-negara yang terus berdagang dengan Iran?”
Ia menyoroti bahwa AS mulai berperang secara ekonomi dengan China, mitra dagang terbesar Iran, tahun lalu tetapi “mundur dari itu”.
Mantan penasihat senior di departemen luar negeri, Aya Ibrahim, mengatakan ketergantungan berlebihan AS pada sanksi “mendorong negara-negara untuk mencari cara melewati sistem itu”.
Ia juga menyampaikan kekhawatiran bahwa sanksi justru bisa paling berdampak pada মানুষ, bukan ekonomi, karena sanksi “menolak kebutuhan dasar yang dibutuhkan orang untuk tetap hidup”.
Sementara itu, pasar global bereaksi datar terhadap pengumuman tersebut.
Harga minyak dunia turun setelah pengumuman itu, tetapi masih jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat sebelum perang.
Para pedagang saham bahkan lebih tidak tergerak oleh kabar tersebut, dengan indeks-indeks utama perusahaan terbesar yang terdaftar di AS, Eropa, dan Asia hampir tidak bergerak.
AS masih perlu waktu panjang sebelum meyakinkan para ekonom, investor, dan negara-negara yang berdagang dengan Iran bahwa ancaman sanksinya harus dianggap serius.
Pelaporan tambahan oleh Miguel Roca-Terry
Poin penting:
- AS menyebut sanksi baru terhadap Iran sebagai “economic D-Day”.
- Iran mengatakan siap menghadapi sanksi baru dan banyak ekonom menilai dampaknya terbatas.
- China adalah pembeli terbesar barang Iran, dengan 26,9% ekspor Iran pada 2025 menurut ITC.
- Turki dan Pakistan juga mitra dagang penting Iran, tetapi keduanya berada dalam posisi diplomatik yang rumit.
- BBC melihat bukti penyelundupan minyak dari Iran ke Pakistan melintasi perbatasan.
- Oxford Economics dan para pakar lain menilai efek langsung sanksi pada pendapatan Iran kemungkinan tidak besar.
Sumber asli: BBC News — Business