
Ringkas: Seorang pembaca yang bekerja dalam profesi berlisensi merasa perannya sebagai supervisor semakin menyerupai orang tua. Ia menghadapi staf baru yang membagikan detail pribadi tanpa diminta, mengalami ledakan emosi di tempat kerja, dan mengharapkannya membantu mereka mengelola emosi.
Seorang pembaca menulis:
Peran supervisor terasa berubah menjadi orang tua
Saya bekerja dalam profesi berlisensi dan mengawasi beberapa staf dengan tingkat pengalaman yang sangat beragam. Saya telah bekerja di bidang ini selama 12 tahun, dan sekitar separuh dari masa tersebut saya jalani sebagai pegawai tingkat staf.
Saya kesulitan menghadapi pekerjaan saya sebagai supervisor profesional yang terasa semakin menyerupai peran orang tua. Bagaimana saya harus menangani sebagian staf baru yang terus-menerus menuntut hal-hal yang sangat jauh di luar cakupan peran saya? Bagaimana caranya membuat staf berhenti memperlakukan saya seolah-olah saya adalah ibu mereka, yang bertugas mengajari cara menjalani hidup dan berfungsi sebagai orang dewasa di tempat kerja, alih-alih mengajari mereka menjalankan pekerjaan secara substantif? Apa yang saya lakukan sehingga staf menganggap dinamika ini dapat diterima, dan bagaimana saya bisa mengubahnya?
Saya rutin mengadakan pertemuan empat mata dengan staf untuk membahas perkembangan pekerjaan substantif mereka. Dalam pertemuan itu, saya siap dan senang membahas pertanyaan, menyusun strategi, bahkan memberikan pelatihan singkat. Saya meninjau hasil pekerjaan tertulis, memberikan masukan yang konstruktif, dan menawarkan pertemuan lanjutan untuk membahas penyuntingan.
Namun, semakin sering staf menggunakan pertemuan tersebut untuk menyampaikan berbagai hal tanpa diminta, termasuk detail mengenai obat resep tertentu yang mereka konsumsi, prosedur medis elektif yang tidak berkaitan dengan pekerjaan, serta informasi intim tentang kehidupan pribadi mereka.
Ledakan emosi staf menjadi persoalan paling menekan
Bagian yang paling membuat stres adalah meningkatnya ledakan emosi dari staf. Ada beberapa staf yang menangis tersedu-sedu, termasuk di hadapan pihak profesional yang berseberangan dengan kami, dengan cara yang menurut saya sangat tidak pantas.
Hal ini juga terjadi dalam pertemuan empat mata saya dengan mereka. Situasinya bahkan pernah membuat saya harus menjadwalkan ulang pertemuan karena seorang staf tidak mampu menenangkan diri meskipun sudah diberi waktu untuk beristirahat. Selain terasa tidak pantas, reaksi semacam ini juga tampak sangat tidak sebanding dengan situasinya. Saya tidak nyaman ketika dibebani tugas untuk membantu orang dewasa mengatur emosi mereka di tempat kerja.
Saya tidak menganggap diri saya sebagai orang yang sangat hangat atau keibuan. Karena itu, saya semakin bingung ketika staf bersikap seperti ini kepada saya. Saya berusaha menunjukkan belas kasih pada saat kejadian, tetapi juga menyampaikan bahwa saya bukan terapis dan perlu memiliki batasan.
Saya tidak pernah membalas dengan membagikan terlalu banyak informasi tentang kehidupan pribadi saya sendiri. Saya juga mencoba mengarahkan pembicaraan kembali ke hal-hal terkait pekerjaan, seperti strategi alur kerja, rujukan ke bagian SDM, dan pengingat mengenai sumber daya karyawan yang tersedia. Tentu saja saya ingin memperlakukan staf sebagai manusia, bukan robot, tetapi situasi ini terasa sudah melewati batas.
Masalah meningkat di kalangan staf yang baru memasuki dunia kerja
Para supervisor lain yang bekerja bersama saya sepakat bahwa masalah ini semakin sulit ditangani. Kami paling sering melihatnya pada staf yang lebih muda dan baru memasuki dunia kerja, dan masalah tersebut meningkat seiring bertambahnya staf Gen Z yang kami rekrut.
Kami juga memperhatikan bahwa situasinya lebih buruk ketika seorang staf belum pernah memiliki pekerjaan sebelum menduduki posisi mereka saat ini—misalnya, tidak memiliki pengalaman di industri jasa atau tidak pernah bekerja selama sekolah. Kami melihat peningkatan besar dalam persoalan ini ketika mulai merekrut staf yang menjalani pendidikan perguruan tinggi atau sekolah pascasarjana selama Covid.
Bagaimana menetapkan batasan tanpa meninggalkan bidang ini?
Hal ini telah menjadi bagian paling menekan dari pekerjaan saya sekaligus bagian yang terasa paling tidak berkelanjutan. Saya tidak ingin meninggalkan bidang ini karena saya benar-benar bersemangat dan kompeten dalam pekerjaan yang saya lakukan. Namun, situasi ini benar-benar membuat saya kewalahan.
Apakah masalahnya ada pada saya? Apakah saya sudah menjadi sinis dan pemarah? Bagaimana caranya membuat mereka mampu mengendalikan diri?
Jawaban untuk surat ini dapat dibaca di New York Magazine hari ini. Silakan menuju ke sana untuk membacanya.
Poin penting:
- Penulis surat telah bekerja selama 12 tahun dalam profesi berlisensi dan mengawasi staf dengan beragam pengalaman.
- Staf semakin sering membagikan detail medis dan kehidupan pribadi yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.
- Beberapa staf menangis tersedu-sedu, termasuk di hadapan pihak profesional yang berseberangan.
- Masalah paling sering terlihat pada staf muda yang baru memasuki dunia kerja dan belum pernah memiliki pekerjaan sebelumnya.
- Para supervisor melihat peningkatan besar setelah merekrut staf yang berkuliah atau menempuh sekolah pascasarjana selama Covid.
- Situasi tersebut menjadi bagian pekerjaan yang paling menekan dan paling terasa tidak berkelanjutan bagi penulis surat.
Sumber: https://www.askamanager.org/2026/09/my-gen-z-employees-are-exhausting-to-manage.html